Harga Minyak Dunia Kembali Pulih

Perang Dagang AS-China Mereda, Harga Minyak Pulih

11.5
(ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Harga minyak mentah melejit lebih dari 3 persen pada perdagangan Selasa (10/4), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi seiring meningkatnya keyakinan investor terhadap AS dan China yang bakal menyelesaikan konflik dagang tanpa mengganggu perekonomian global.

Di saat bersamaan, tensi di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar dolar AS diperkirakan juga turut menopang harga.

Dilansir dari Reuters, Rabu (11/4), harga minyak mentah berjangka Brent melonjak US$2,39 atau 3,5 persen menjadi US$71,04 per barel. Hal tersebut merupakan kenaikan harian terbesar sejak September 2017.

Dalam perdagangan pasca penutupan, harga Brent menyentuh US$71,34 per barel, tertinggi sejak Desember 2014.

Penguatan harga juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 3,3 persen atau US$2,09 menjadi US$65,51 per barel.

Presiden Blue Line Futures Bill Baruch mengungkapkan penguatan harga tak lepas dari meredanya ketakutan investor terhadap perang dagang dan risiko geopolitik. Selain itu, pelemahan kurs dolar AS juga memegang andil terhadap penguatan harga minyak.

“Ini merupakan salah satu hari yang besar,” ujar Baruch di Chicago.

Kedua harga minyak mentah acuan telah meningkat lebih dari 5 persen selama dua hari terakhir. Harga yang melambung telah menghapus efek dari penurunan grafik lebih dari 4 persen pekan lalu, saat timbul kekhawatiran perang dagang antara China dan AS.

Pada Selasa (10/4) kemarin, Presiden China Xi Jinping berjanji bakal membuka perekonomian Negeri Tirai Bambu lebih lebar dan menurunkan tarif impor. Pernyataan tersebut memberi sinyal perdamaian pada tensi perdagangan antara China dan AS yang sedang memanas.

Analis RJO Futures Philip Streible juga menilai tensi di Timur Tengah juga turun menopang harga.

Streible mengungkapkan Presiden AS Donald Trump menjanjikan reaksi cepat terhadap dugaan serangan kimia di Suriah. Respons seperti itu berpotensi mendorong AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran, mengingat ada dukungan Iran terhadap pemerintah Suriah.

“Pasar minyak mendapatkan dorongan dari meningkatnya spekulasi tentang Trump dan Suriah,” ujar Streible di Chicago.

Jika AS keluar, Iran terancam mendapatkan sanksi baru yang akan menyakiti industri minyak global.

Selanjutnya, dukungan terhadap harga minyak juga berasal dari pelemahan kurs dolar AS. Indeks dolar AS keok melawan sekeranjang mata uang dunia utama, ke level terendahnya untuk hampir dua pekan.

Mengingat minyak diperdagangkan dengan dolar AS, pelemahan dolar membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak mentah AS diperkirakan naik 750 ribu barel per hari (bph) menjadi 11,44 juta bph tahun depan, lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya.

Sementara itu, Menteri Energi Saudi Arabia Khalid al-Falih menyatakan bakal menjaga ekspor minyak dan mengembalikan kondisi persediaan ke level normal.

Sumber. [ cnnindonesia.com ]

Comments Closed
Copyright © Belajar Forex, Broker Forex