IHSG Terjun Bebas

Akibat Perang Dagang AS, IHSG terjun bebas, Bos BEI angkat Bicara

Memilih Perusahaan Pialang SahamIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, turun 43,38 poin (0,69%) ke 6210,70. Angka ini terbilang turun cukup drastis bila dibandingkan pada capaian IHSG di bulan Januari 2018 kemarin di mana IHSG mampu berada di posisi 6.500.

Tito Sulistio Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya angkat bicara. Dia menerangkan tren melemahnya IHSG dikarenakan adanya uncertainty (ketidakpastian) dunia, yakni kekhawatiran terjadinya perang perdagangan dan likuditas uang.

“Uncertainty ini juga bukan sekedar terjadi di lokal saja tapi juga internasional. Terutama perang perdagangan pada proteksionisme antara Amerika dan China. dan Apapun itu, membuat ketidak percayaan pada pasar. hal ini berdampak ke seluruh dunia karena adanya uncertainty yang sama, rasa takut yang sama, di indeks juga sama turunnya,”

Sebelumnya, China langsung melontarkan sebuah balasan atas pernyataan Presiden AS Donald Trump mengesahkan memorandum tarif impor produk China sebesar USD 60 miliar. Pada hari ini Menteri Perdagangan China mengumumkan akan melakukan tindakan resiprokal di tarif produk impor dari AS di mulai dari baja dan daging babidengan nilai dagang mencapai USD 3 miliar.

China juga akan menerapkan tarif pada impor daging babi sebesar 25% dan pada produk pipa, buah, anggur dan baja sebesar 15% ke atas. Tidak hanya itu, China juga menyusun sebuah daftar yang berisi 128 produk dari Amerika Serikat yang dijadikan target pengenaan tarif impor.

“Aksi China ini memicu kekhawatiran skala global yang lebih luas terhadap perang dagang. Proteksionisme, in world looking.

Faktor di dalam negeri sendiri juga ikut berpengaruh setelah BI pada RDG kemarin yang di umumkan pada pertumbuhan kredit Januari tercatat sekitar 7,4% (yoy). pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,4% (yoy).

Tidak hanya itu, pada lembaga peringkat utang di dunia, Standar & Poor’s (S&P) mengatakan bahwa utang yang di tanggung empat perusahaan di bidang konstruksi besar BUMN mengalami kenaikan 57% menjadi sebesar USD 11,3 miliar atau jika di rupiahkan setara Rp 156,2 triliun. Kenaikan utang tersebut untuk pendanaan infrastruktur yang sedang di lakukan pemerintah saat ini, dan sebagai tanda bahwa nilainya sudah sangat besar.

Sedangkan, rasio utang pada pendapatan sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) di 20 BUMN di bidang konstruksi sudah meningkat lima kali. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2011 yang hanya 1 kali terhadap EBITDA.

“Uncertainty juga terjadi pada likuiditas uang. Karena adanya 171 pilkada, tarikan pajak, lebaran, dan juga ada uncertainty apakah bunga akan naik atau tidak.

Namun ia masih sangat percaya IHSG akan membaik karna mengingat kinerja emiten Indonesia cukup bagus. Ia memberi contoh pada 2017, pada saat itu pertumbuhan pendapatan bersih di perusahaan publik masih baik mencapai 21,8% dan tertinggi di dunia.

“Untungnya di pasar modal kita hasilnya masih bagus, produknya juga bagus. Itu yang membuat saya percaya diri tidak takut. Selama produk barangnya bagus, emitennya juga bagus, ini adalah persepsi sementara. yang membikin percaya,” tegasnya.

Ia juga mengatakan di Indonesia emiten masih tidak terlalu terpengaruh akan perang dagang. “Makanya pertumbuhan harga masih tetap bagus, karena consumer product yang banyak ,” ujarnya.

“Di kutip dari laman. [Kumparan.com]

Comments Closed
Copyright © Belajar Forex, Broker Forex