IPO BRI Syariah

IPO BRI Syariah Dibanderol Rp500 per Saham

ipo-bri

Rencana PT Bank BRI Syariah untuk menawarkan saham perdananya kepada publik melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam aksi korporasi tersebut, anak usaha Bank BRI ini bakal melepas sebanyak 2.62 miliar saham baru atau sebesar 27% dengan nilai nominal Rp500 per saham.

Dalam prospektusnya di Jakarta, kemarin perseroan menawarkan saham IPO Rp500 per saham dengan dana yang dibidik sebesar Rp1,27 triliun. Dengan adanya pelepasan saham ke publik tersebut, saham BRI akan turun dari dari 99,99% menjadi 72,99%. Sisanya, sebesar 26,32% dilepas ke investor publik dan 0,62% diberikan pada karyawan dan Yayasan Kesejahteraan Pekerja BRI.

Empat penjamin pelaksana emisi ditunjuk dalam gelaran aksi korporasi ini yakni PT Bahana Sekuritas, PT Danreksa Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, dan PT Indopremier Securities. Menurut rencana, sekitar 80% dana dari hasil IPO akan digunakan untuk pembiayaan. Sebanyak 12,5% untuk pengembangan teknologi informasi dan 7,5% untuk pengembangan jaringan kantor. Direktur Utama BRI Syariah Hadi Santoso pernah bilang, dasar dari rencana IPO perusahaan tahun ini adalah agar ekspansi perusahaan menjadi lebih mudah. “Pokoknya kami kepingin jadi BUKU III, sekarang masih BUKU II,” ujarnya.

Untuk menjadi BUKU III, BRI Syariah harus memiliki modal inti minimal Rp5 triliun. Sementara hingga akhir Desember 2017 lalu, modal inti perusahaan baru mencapai Rp2,45 triliun. Beberapa waktu lalu, perusahaan juga telah menerima suntikan dana dari induk usahanya, PT Bank BRI Tbk (BBRI) senilai Rp1 triliun. Dengan asumsi demikian, maka perusahaan masih membutuhkan dana kurang lebih sebesar Rp1,5 triliun.

Sedangkan laba bersih perseroan sepanjang 2017 mencapai Rp101,09 miliar. Angka ini menurun 40% dari periode 2016 yang sebesar Rp170,2 miliar.Beban usaha perseroan tercatat mengalami kenaikan dari Rp1,16 triliun di 2016 menjadi Rp1,17 triliun di 2018. Laba usaha perseroan turun drastis dari Rp239,2 miliar menjadi Rp139,59 miliar di 2017. Perseroan mengalokasikan beban cadangan kerugian sebesar Rp453 miliar di 2017. Total aset perseroan di 2016 tercatat meningkat dari Rp27,68 triliun menjadi Rp31,54 triliun di 2017.

Tahun ini, BRI Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 10-14%. Pertumbuhan tersebut terutama akan didorong oleh pembiayaan infrastruktur dan sektor konsumer. Tahun lalu, BRI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sektor infrastruktur sekitar Rp1 triliun. Sebagian di antaranya disalurkan kepada PT Waskita Beton Precast Tbk untuk pembangunan jalan tol dan tahun ini, perseroan akan tetap fokus pada pembiayaan jalan tol, juga fasilitas transportasi massal seperti kereta.

Maka dengan penyaluran pembiayaan infrastruktur tahun ini bisa tumbuh dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Di samping itu, segmen konsumer juga menjadi bidikan BRI Syariah. Melalui perkembangan infrastruktur, maka akan semakin menjangkau daerah terpencil sehingga menumbuhkan kawasan permukiman baru.

Sumber. [ okezone.com ]

Comments Closed
Copyright © Belajar Forex, Broker Forex