Krisis di Italia Tahan Penguatan Rupiah

Krisis di Italia Tahan Laju Penguatan Rupiah

Kenaikan suku bunga bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% diprediksi bakal berpengaruh positif pada nilai tukar rupiah terhadap dolar. Dolar AS diprediksi berada di level Rp 13.900-Rp14.000.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (30/5). Suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility meningkat dengan level yang sama yakni 25 bps masing-masing menjadi 4 persen dan 5,5 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara Bhima Indef mengatakan, penguatan rupiah berlaku jangka pendek. Namun, efek penguatan rupiah dirasa kecil karena sebelumnya pelaku pasar telah melakukan price in atau memasukan faktor kenaikan bunga acuan yang kedua ke harga saham.

“Yang jadi perhatian utama adalah melihat sinyal berapa kali BI akan naikan bunga acuan sampai akhir tahun apakah benar benar pre emptive mengantisipasi setiap naiknya Fed rate atau lebih longgar,” ujar Bhima di Jakarta, Kamis (31/5).

Menurut Bhima, faktor global bisa jadi penghambat laju penguatan rupiah salah satunya karena instabilitas politik dan ancaman krisis keuangan di Italia. Selain Italia ada Turki dan Argentina yang dikhawatirkan memicu krisis sistemik global, negosiasi AS dan China belum menemui titik terang dan berpotensi melanjutkan trade war serta keputusan OPEC yang berpengaruh ke harga harga komoditas.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan kenaikan suku bunga acuan dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap perkiraan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi. Hal itu juga dilakukan untuk meredam risiko di pasar keuangan global dengan kebijakan preemtif front loading.
[ detik.com ]

Comments Closed
Copyright © Belajar Forex, Broker Forex